Dalam dekade terakhir, kita menyaksikan fenomena 'lomba membuat aplikasi' di kalangan institusi pemerintah daerah dan pusat. Hampir setiap satuan kerja berlomba-lomba meluncurkan aplikasi dengan berbagai nama akronim. Namun, kuantitas tidak selalu sejalan dengan kualitas.
Kenyataannya, banyak aplikasi pemerintah yang akhirnya terbengkalai, sepi pengguna (ghost app), atau tidak ramah pengguna (poor UX). Hal ini mencerminkan kegagalan dalam melakukan riset pengguna (user research) sebelum aplikasi dibangun. Fokus pengembangan terlalu berorientasi pada 'fitur' alih-alih menyelesaikan masalah (pain points) yang sebenarnya dihadapi warga.
Untuk menghindari pemborosan anggaran, pemerintah harus melakukan konsolidasi aplikasi. Super-app pelayanan publik menjadi tren yang lebih rasional, di mana berbagai layanan diintegrasikan ke dalam satu pintu (single window). Evaluasi berkala berbasis metrik analitik seperti Active Users, Retention Rate, dan User Satisfaction Score wajib dilakukan.
PT Mahaga Widya Cita, melalui layanan Smart Software Service dan Governance Review, berkomitmen membantu pemerintah merancang aplikasi yang tidak hanya indah secara visual, namun juga memiliki skalabilitas tinggi, keamanan terjamin, dan benar-benar berdampak positif bagi kemudahan hidup masyarakat.