Pembangunan berbasis teknologi tidak lagi menjadi monopoli wilayah perkotaan (Smart City). Konsep Smart Village atau Desa Pintar mulai menjamur di berbagai pelosok nusantara, membuktikan bahwa digitalisasi adalah instrumen ampuh untuk mempersempit kesenjangan antara desa dan kota.
Smart Village berfokus pada pemberdayaan ekonomi lokal dan peningkatan akses layanan dasar. Contohnya adalah digitalisasi layanan administrasi desa yang mempermudah warga mengurus surat pengantar tanpa harus antre, serta pemanfaatan e-commerce oleh BUMDes untuk memasarkan produk unggulan desa ke pasar nasional.
Dalam sektor pertanian, penerapan sensor Internet of Things (IoT) membantu petani memantau kelembaban tanah dan cuaca, sehingga penggunaan air dan pupuk menjadi lebih efisien. Teknologi ini tidak hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga menarik minat generasi muda untuk kembali bertani secara modern.
Kendala utama Smart Village adalah ketersediaan infrastruktur jaringan internet (blank spot) dan literasi digital masyarakat. Sinergi antara pemerintah pusat melalui program penyediaan BTS dan pemerintah desa dalam mengalokasikan Dana Desa untuk pelatihan digital menjadi kunci keberhasilan program ini.