Generasi muda seringkali dianggap apatis terhadap urusan pemerintahan dan politik. Padahal, keputusan-keputusan terkait alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) secara langsung akan berdampak pada kualitas fasilitas pendidikan, ruang publik, dan lapangan pekerjaan bagi mereka di masa depan.
Dengan kemampuan literasi digital yang mumpuni, pemuda memiliki potensi besar untuk menjadi pengawas independen (watchdog) anggaran daerah. Saat ini, banyak pemerintah daerah yang telah mempublikasikan ringkasan APBD mereka di portal web resmi. Data ini terbuka untuk dianalisis oleh siapa saja yang peduli terhadap arah pembangunan kotanya.
Keterlibatan pemuda tidak berhenti pada analisis layar komputer. Mereka dapat mengikuti Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kelurahan hingga kota untuk menyuarakan program-program yang relevan dengan kebutuhan pemuda, seperti pembangunan pusat inovasi atau beasiswa keterampilan digital.
Dengan mengawal APBD, pemuda belajar memahami kompleksitas birokrasi dan seni merumuskan kebijakan. Sinergi antara idealisme anak muda dan transparansi pemerintah daerah akan melahirkan inovasi pembangunan yang efisien, tepat sasaran, dan bebas dari praktik-praktik penyimpangan anggaran.