Ekspektasi masyarakat terhadap kualitas layanan publik terus meningkat seiring dengan standar kenyamanan yang ditawarkan oleh sektor swasta (seperti e-commerce dan bank digital). Untuk mengimbangi tuntutan ini, birokrasi pemerintahan tidak bisa lagi bekerja dengan gaya business as usual; mereka dituntut untuk terus melahirkan inovasi pelayanan.
Budaya inovasi tidak dapat diciptakan hanya melalui instruksi atau surat edaran (SE). Ia membutuhkan ruang aman (safe space) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk bereksperimen, menguji gagasan baru, dan bahkan melakukan kesalahan. Konsep 'Regulatory Sandbox' internal dapat diterapkan agar ide-ide out-of-the-box dapat diuji tanpa takut terkena sanksi administratif.
Ajang kompetisi inovasi seperti Sinovik (Sistem Informasi Inovasi Pelayanan Publik) yang diselenggarakan KemenPAN-RB merupakan langkah positif untuk merangsang kompetisi sehat antar daerah. Daerah yang berhasil memenangkan kompetisi tidak hanya mendapatkan piala, tetapi juga kucuran Dana Insentif Daerah (DID) dari pemerintah pusat.
PT Mahaga Widya Cita, melalui berbagai modul pelatihannya, secara aktif mendampingi Badan Kepegawaian Daerah (BKD) maupun Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) dalam menanamkan pola pikir desain (Design Thinking) kepada para ASN, agar inovasi yang lahir benar-benar menjawab permasalahan (pain points) yang dirasakan oleh warga.